Thursday, December 2, 2010

More Vitamin D Could Prevent Some Psychosis

Scientific American News


Could some cases of schizophrenia boil down to something as simple as vitamin D deficiency? The idea was first put forth more than a decade ago by schizophrenia researcher John McGrath of the University of Queensland in Australia. The circumstantial evidence fit: people born in winter or spring or at high latitudes are at slightly increased risk of developing schizophrenia, and vitamin D deficiency is also more common in winter months and at high latitudes because of lack of sunlight. It may be that a deficit of vitamin D leaves expecting mothers more vulnerable to illnesses such as influenza, which could in turn sensitize the maturing brain to stress-related damage later in life. [For more on how prenatal infections can lead to mental illness, see “Infected with Insanity,” by Melinda Wenner; Scientific American Mind, April/May 2008.]

Now McGrath and his colleagues have put the hypothesis to the test. They analyzed blood samples taken from 424 Danish newborns who went on to develop schizophrenia as well as an equal number of babies who never acquired the disease. In each sample, they measured the amount of the chemical 25OHD, which the body converts into vitamin D. The researchers found that infants who had low levels of 25OHD in their blood—and therefore mothers who were deficient in vitamin D while they were pregnant—were at a higher risk of developing schizophrenia when they grew up.

The result, published in the September issue of Archives of General Psychiatry, could be especially interesting for communities of black immigrants living in northern countries. Researchers have found a striking increase in schizo­phrenia risk for the children of dark-skinned migrants living at high latitudes—a finding neatly explained if vitamin D plays a role, because dark skin blocks ultraviolet B radiation, the component of sunlight necessary for the body to synthesize vitamin D.

There are some loose ends to tie up, however, before recommending vitamin D supplements for at-risk mothers. The group found that infants with high levels of 25OHD were also at increased schizophrenia risk. McGrath speculates that these infants might have been relatively inca­pable of generating vitamin D, leading to a buildup of the precursor in their blood—but more research is necessary to say for sure. All told, 44 percent of the schizo­phrenia cases in the study were attributable to either low or high vitamin D levels. “Even if vitamin D supplements can prevent only a small fraction of schizophrenia,” McGrath says, “it will be a fantastic outcome.”

Sunday, November 7, 2010

PERANAN MYCORRHIZAL HELPER BACTERIA (MHBs) DIBALIK KERJA MIKORIZA SEBAGAI PUPUK HAYATI PADA TANAMAN Eucalyptus pellita

Mokhammad Rifa'i, S.Hut; Rifa' Atunnisa, S.Hut; Emma Pratiwi, S.Hut; Fiona Christina 
Program Kreativitas Mahasiswa-Penelitian (PKMP)
Silviculture Department, Bogor Agriculture University,2009

 ABSTRAK

Indonesia banyak memiliki lahan marginal yang cukup luas dengan kadar kemasaman yang tinggi sehingga kurang baik bagi tanaman. Salah satu mikroorganisme yang dapat membantu adalah mikoriza. Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) adalah fungi yang bersimbiosis dengan akar tumbuhan. Simbiosis ini mempunyai peran penting dalam pengambilan unsur hara tanah, terutama fosfat, sehingga pertumbuhan tanaman dapat diperbaiki.
Eucalyptus pellita banyak dikembangkan untuk Hutan Tanaman Industri (HTI) pada lahan marginal. Penggunaan FMA dapat membantu meningkatkan pertumbuhan dan kualitas bibit di persemaian, dan meningkatkan daya hidup di lapangan. Dalam rangka lebih meningkatkan kinerja FMA, maka eksplorasi bakteri (MHBs) yang bersimbiosis dengan spora FMA perlu dilakukan. MHBs ini selanjutnya diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas inokulum FMA.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap 2 faktorial, yaitu faktor mikoriza sebanyak 4 taraf dan faktor bakteri sebanyak 5 taraf. Dilakukan 5 kali ulangan pada masing-masing kombinasi perlakuan.
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam terhadap parameter pertumbuhan tanaman E.pellita, perlakuan mikoriza memberikan pengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan sedangkan perlakuan tunggal bakteri tidak memberikan pengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan yang meliputi tinggi, diameter, biomassa, infeksi FMA terhadap akar, dan indeks mutu bibit. Perlakuan kombinasi mikoriza dan bakteri berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi dan infeksi mikoriza. Perlakuan FMA dengan BGi 4 memberikan nilai rata-rata pertambahan tinggi terbaik yaitu meningkat 83.12% dibandingkan dengan kontrol.
            Didapatkan satu isolat MHBs yaitu BGi 4 yang mampu bekerja secara simultan dengan Glomus sp. BGi 4 yang secara spesifik bekerja pada Glomus sp. meningkatkan persentase infeksi akar, tetapi menurunkan persentase infeksi akar jika digabungkan dengan Gigaspora sp.


Kata kunci : Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA), Eucalyptus pellita, Mychorrizal Helper Bacteria (MHBs), Lahan Marginal.

email:rifa_atunnisa@yahoo.co.id

Saturday, October 30, 2010

Beware For Deforestation Effects

Deforestation gives a bad effect on the world climate and temperature change in the world. There are natural and anthropogenic factors can cause deforentation. Natural factors that can cause changes in forests over time including insects, forest fires, diseases, weather, competition between species, etc. Anthropogenic factors that can disturb forests include logging beyond a tolerable limit, urban sprawl, human-caused forest fires, invasive species with exsotic species, and the slash-burn practices of shifting cultivation. However, the loss and re-growth of forest leads to a distinction between two types of forest; primary or old-growth forest and secondary forest. 

Actually, forest includes in renuwable resources which is can be sustainable if there is well management of forest product. On the other side, the way to manage forest product did not follow what supposed to do. Nowdays, it is difficult finding forest-primary because of human activity which is not care and respect to our forest. Illegal logging becomes serious problem as time goes on. It needs serious handling because it gets in touch with crime. The rising of human necessities influence land-changing alterations. Forest plantations, coconut palm plantations, and mining activity in protection forest area become main affect of sustainable forest. Forest plantation, generally intended for the production of pulpwood and timber that increase the total area of forest worldwide. Actually, high-heterogeneous forest better than mono-specific condition or homogeneous which is heterogeneity influence the stabilization of forest. Most of people burn the forest to do land-clearing activity. However, it will be danger to our environment because of the smoke that contains damage gases. There are many mining activities in protection forest area that suppose forbidden for exploration activity.

Sunday, October 24, 2010

The Amazing of Tears

"Aku Haramkan Neraka Kepada Mata yang Selalu mengangis Karena Takut Kepada Allah"
(HR Ahmad dan an Nasa'i)


Mengangis merupakan sifat yang menjadi pembeda antara manusia dengan makluk lain. Banyak arti dibalik air mata yang keluar melalui kelopak mata kita. Menangis tidak hanya berkaitan dengan perasaan sedih saja melainkan juga dapat sebagai penanda kebahagiaan. Manangis adalah sifat alami yang Allah anugrahkan secara fitri kepada manusia. Ia adalah salah satu dari sekian banyak fenomena kejiwaan manusia. Dan sekarang sudah banyak diketahui beberapa faedah secara kesehatan manusia.

Berdasarkan buku dahsyatnya menangis karya Hasan bin Muhammad Ba Mu'aibid disebutkan bahwa banyak faedah dari segi kesehatan yang baik digunakan sebagai terapi kesehatan diantaranya adalah:
  1. Menangis merupakan cara alami untuk membuang unsur-unsur membahayakan dari tubuh manusia. Unsur-unsur ini diproduksi oleh tubuh saat manusia sedang mengalami keputusasaan dan ketakutan
  2. Otak bekerja mengeluarkan unsur-unsur kimia yang terdapat pada air mata yang menjadi tempat bersarangnya rasa sakit
  3. Menangis dapat menambah jumlah detak jantung dan dianggap sebagai sebuah latihan yang sangat berguna bagi sekat ronda badan, urat-urat dada dan kedua bahu. Setelah menangis, kecepatan detak jantung kembali ke asalnya semula. Hingga akan muncul perasaan tenang dan rileks
  4. Kajian yang dilakukan Dr. William Frey pada pusat penelitian mata dan air mata di Sant Pholl Rams Medical Centre menegaskan bahwa mengangis sangat berguna bagi kesehatan jiwa dan emosi kita  
  5. Para ilmuan telah melalukan penelitian terhadap air mata dan menemukan bahwa air mata mengandung 25% protein dan satu bagian dari zat besi, terutama magnesium, ini merupakan unsur racun yang bisa terbebas dari manusia saat ia menangis
  6. Air mata juga bekerja menjernihkan kornea mata dan memeliharanya dari kekeringan, ini merupakan faktor yang bisa membentu jelasnya penglihatan serta kuat dan tajamnya daya penglihatan